Jumat, 19 Oktober 2012

Rahasia Diriku


   Semua bermula tanpa sengaja. Waktu itu aku sedang bermain petak umpet bersama teman-teman. Agar tidak ketahuan, aku bersembunyi di gudang, di loteng rumahku. Seperti dugaanku, temanku tidak berhasil menemukanku. Karena bosan menunggu, iseng-iseng aku melihat-lihat isi loteng. Selama ini nenek melarangku naik ke sini. Mumpung nenek pergi, aku memeriksa isi loteng. Ugh, banyak debu dan sarang laba-laba di sini. Di loteng ini ternyata penuh dengan benda tua, seperti sepeda tua kakek, dan boks bayiku. Juga ada sebuah peti kayu yang penuh dengan ukiran bunga. Karena penasaran, kubuka peti kayu yang tidak terkunci itu. Isinya membuatku tercengang. Ada baju balerina, sepatu balet biru muda, dan kotak musik !
   Karena iseng, kupakai baju indah dan sepatunya yang sewarna. Lalu kubuka kotak musiknya. Aku mencoba menari mengikuti irama musik itu. Tiba-tiba terdengar suara Nenek yang memanggilku. Segera kutinggalkan sepatu dan baju balet itu. Kututup kotak musiknya, lalu buru-buru turun. “Apa yang kamu lakukan di loteng?” tanya Nenek. “Awas, jangan bermain di loteng lagi! Kamu nakal, ya!” Nenek melotot tajam. Aku jadi ketakutan.
   Hari-hari selanjutnya, aku menjadi gelisah. Aku sangat menasaran. Siapa pemilik naju, sepatu balet, dan kotak musik itu? Kenapa Nenek menyimpannya?
   Suatu hari sepulang sekolah, aku singgah ke rumah Nenek Emma. Nenek Emma adalah teman karib nenekku. “Nek Emma, apakah Nenek tahu siapa kedua orangtuaku?” tanyaku. Nenek Emma menggeleng. “Nenek sama sekali tidak kenal orang tuamu. Sewaktu kakek dan nenekmu pindah ke sini, mereka hanya membawa seorang bayi perempuan cantik. Bayi itu adalah kamu, Kiara!” jelas Nenek Emma. Aku tertunduk lesu. Itu benar! Sejak kecil aku tidak mengenal ayah dan ibuku. Ketika Kakek masih hidup dulu, aku pernah bertanya padanya. Kata Kakek, orangtuaku sudah meninggal karena kecelakaan mobil. Anehnya, aku juga tidak tahu begaimana wajah orangtuaku. Tidak ada selembar fotopun di rumahku. Aku sungguh tidak mengerti.
   Ketika hari libur, aku bermain ke rumah Anne, teman sekolahku. Ia langsung mengajakku bermain di kamarnya. Waktu melewati ruang tamu, aku terpukau melihat banyak piala dan medali yang terpajang rapi di lemari kaca. “Dulu ibuku seorang ballerina. Ia mengikuti banyak kejuaraan. Tapi ibuku selalu mendapatkan juara dua. Juara satunya katanya selalu Katarina Wilson,” Anne menjelaskan. Katarina Wilson, gumamku. Nama yang mirip dengan namaku. Kiara Katarina. Aku tercenung.
   Sewaktu minum teh, Tante Melisa, ibu Anne memperlihatkan foto-foto lamanya. Banyak foto ketika Tante Melisa mengikuti kejuaraan balet. “Ini dia juara satunya, Katarina Wilson. Tante yang berada di tengah, juara dua!” Tante Melisa menunjuk salah satu fotonya. Aku memperhatikan foto itu. Ya, ampuun! Mataku seakan tidak percaya. Baju dan sepatu balet yang dipakai Katarina Wilson, sangat mirip dengan baju yang kutemukan di loteng rumah. Jangan-jangan.....
   Ketika akan pulang, hujan turun dengan lebatnya. Berkali-kali Nenek menelepon karena khawatir. Akhirnya Tante Melisa mengantarkanku pulang. “Hai! Sepertinya saya pernah melihat Ibu sebelumnya!” seru Tante Melisa ketika berkenalan dengan Nenek. “Ah, mungkin Ibu hanya melihat orang yang mirip saya!” sergah Nenek. Karena penasaran, esoknya, pulang sekolah aku ke rumah Anne lagi. “Apa betul Tante pernah melihat Nenek saya sebelumnya?” tanyaku. “Ya, Tante yakin sekali pernah melihatnya. Tapi di mana ya? Tante lupa.” Jawab Tante Melisa. “Tolong Tante ingat-ingat lagi! Apakah Tante bertemu nenekku di pasar, di rumah sakit, di sekolah...” aku terus bicara. Tapi Tante Melisa terus menggelengkan kepalanya. “Mungkin Tante bertemu Nenek di kejuaran balet?” tanyaku lagi. “Aha! Benar katamu, sayang!” seru Tante Melisa. “Nenekmu yang selalu mengantar Katarina Wilson.”
   Apa?! Aku kaget sekali. Jadi Katarina Wilson adalah ibuku? Tanpa ragu lagi, aku menceritakan semuanya pada Tante Melisa. Tante Melisa berjanji akan membantuku mencari orangtuaku. Tante Melisa menepati janjinya. Seminggu kemudian, ia meneleponku, “Tante berhasil mendapatkan alamat orangtuamu. Bahkan Tante sudah menghubungi mereka. Hari minggu mereka akan datang menemuimu.”
   Hari yang kutunggu tiba juga. Tepat jam sepuluh pagi, sebuah mobil mewah berhenti di depan rumahku. Dari balik jendele aku melihat seorang wanita cantik dan seorang pria tampan turun dari mobil itu. Hai, ada gadis cilik seusiaku. Apakah dia saudaraku? Nenek sangat terkejut saat membuka pintu. Nenek memeluk wanita dan pria itu. Lalu dengan penuh kasih sayang membelai gadis cilik itu. Lalu Nenek mempersilakan mereka masuk. Mereka mulai berbincang. Aku memasang telinga dengan tajam. Air mataku pun jatuh. Sungguh, aku kecewa sekali. Semuanya diluar degaanku. Mereka bukan orangtuaku dan gadis cilik itu bukan saudaraku.
   Yang sebenarnya, dulu Nenek adalah pengasuh Katarina Wilson. Ke mana-mana Nenek selalu menemaninya. Saat Nenek pensiun, Katarina Wilson memberikan baju dan sepatu balet beserta kotak musiknya sebagai kenang-kenangan pada Nenek. Lalu aku ini siapa?
   “Nenek menemukanmu di depan rumah dalam keadaan kedinginan. Akhirnya Kakek dan Nenek mengadopsmu. Kakek dan Nenek sangat menyayangimu. Sampai-sampai Nenek melarangmu bermain di loteng. Kamu kan, alergi debu. Nenek sedih sekali kalau kamu sakit!” begitulah cerita Nenek.
   Olala... kini semua jelaslah sudah. Namun aku tidak sedih lagi, karena tahu kalau nenek ternyata sangat menyayangiku.

0 komentar:

Posting Komentar