Semua
bermula tanpa sengaja. Waktu itu aku sedang bermain petak umpet bersama
teman-teman. Agar tidak ketahuan, aku bersembunyi di gudang, di loteng rumahku.
Seperti dugaanku, temanku tidak berhasil menemukanku. Karena bosan menunggu,
iseng-iseng aku melihat-lihat isi loteng. Selama ini nenek melarangku naik ke
sini. Mumpung nenek pergi, aku memeriksa isi loteng. Ugh, banyak debu dan
sarang laba-laba di sini. Di loteng ini ternyata penuh dengan benda tua,
seperti sepeda tua kakek, dan boks bayiku. Juga ada sebuah peti kayu yang penuh
dengan ukiran bunga. Karena penasaran, kubuka peti kayu yang tidak terkunci
itu. Isinya membuatku tercengang. Ada baju balerina, sepatu balet biru muda,
dan kotak musik !
Karena
iseng, kupakai baju indah dan sepatunya yang sewarna. Lalu kubuka kotak
musiknya. Aku mencoba menari mengikuti irama musik itu. Tiba-tiba terdengar
suara Nenek yang memanggilku. Segera kutinggalkan sepatu dan baju balet itu.
Kututup kotak musiknya, lalu buru-buru turun. “Apa yang kamu lakukan di loteng?”
tanya Nenek. “Awas, jangan bermain di loteng lagi! Kamu nakal, ya!” Nenek
melotot tajam. Aku jadi ketakutan.
Hari-hari
selanjutnya, aku menjadi gelisah. Aku sangat menasaran. Siapa pemilik naju,
sepatu balet, dan kotak musik itu? Kenapa Nenek menyimpannya?
Suatu
hari sepulang sekolah, aku singgah ke rumah Nenek Emma. Nenek Emma adalah teman
karib nenekku. “Nek Emma, apakah Nenek tahu siapa kedua orangtuaku?” tanyaku.
Nenek Emma menggeleng. “Nenek sama sekali tidak kenal orang tuamu. Sewaktu
kakek dan nenekmu pindah ke sini, mereka hanya membawa seorang bayi perempuan
cantik. Bayi itu adalah kamu, Kiara!” jelas Nenek Emma. Aku tertunduk lesu. Itu
benar! Sejak kecil aku tidak mengenal ayah dan ibuku. Ketika Kakek masih hidup
dulu, aku pernah bertanya padanya. Kata Kakek, orangtuaku sudah meninggal
karena kecelakaan mobil. Anehnya, aku juga tidak tahu begaimana wajah
orangtuaku. Tidak ada selembar fotopun di rumahku. Aku sungguh tidak mengerti.
Ketika hari
libur, aku bermain ke rumah Anne, teman sekolahku. Ia langsung mengajakku
bermain di kamarnya. Waktu melewati ruang tamu, aku terpukau melihat banyak
piala dan medali yang terpajang rapi di lemari kaca. “Dulu ibuku seorang
ballerina. Ia mengikuti banyak kejuaraan. Tapi ibuku selalu mendapatkan juara
dua. Juara satunya katanya selalu Katarina Wilson,” Anne menjelaskan. Katarina Wilson,
gumamku. Nama yang mirip dengan namaku. Kiara Katarina. Aku tercenung.
Sewaktu
minum teh, Tante Melisa, ibu Anne memperlihatkan foto-foto lamanya. Banyak foto
ketika Tante Melisa mengikuti kejuaraan balet. “Ini dia juara satunya, Katarina
Wilson. Tante yang berada di tengah, juara dua!” Tante Melisa menunjuk salah
satu fotonya. Aku memperhatikan foto itu. Ya, ampuun! Mataku seakan tidak
percaya. Baju dan sepatu balet yang dipakai Katarina Wilson, sangat mirip
dengan baju yang kutemukan di loteng rumah. Jangan-jangan.....
Ketika akan
pulang, hujan turun dengan lebatnya. Berkali-kali Nenek menelepon karena
khawatir. Akhirnya Tante Melisa mengantarkanku pulang. “Hai! Sepertinya saya
pernah melihat Ibu sebelumnya!” seru Tante Melisa ketika berkenalan dengan
Nenek. “Ah, mungkin Ibu hanya melihat orang yang mirip saya!” sergah Nenek. Karena
penasaran, esoknya, pulang sekolah aku ke rumah Anne lagi. “Apa betul Tante
pernah melihat Nenek saya sebelumnya?” tanyaku. “Ya, Tante yakin sekali pernah
melihatnya. Tapi di mana ya? Tante lupa.” Jawab Tante Melisa. “Tolong Tante
ingat-ingat lagi! Apakah Tante bertemu nenekku di pasar, di rumah sakit, di sekolah...”
aku terus bicara. Tapi Tante Melisa terus menggelengkan kepalanya. “Mungkin
Tante bertemu Nenek di kejuaran balet?” tanyaku lagi. “Aha! Benar katamu,
sayang!” seru Tante Melisa. “Nenekmu yang selalu mengantar Katarina Wilson.”
Apa?! Aku
kaget sekali. Jadi Katarina Wilson adalah ibuku? Tanpa ragu lagi, aku
menceritakan semuanya pada Tante Melisa. Tante Melisa berjanji akan membantuku
mencari orangtuaku. Tante Melisa menepati janjinya. Seminggu kemudian, ia
meneleponku, “Tante berhasil mendapatkan alamat orangtuamu. Bahkan Tante sudah
menghubungi mereka. Hari minggu mereka akan datang menemuimu.”
Hari yang
kutunggu tiba juga. Tepat jam sepuluh pagi, sebuah mobil mewah berhenti di
depan rumahku. Dari balik jendele aku melihat seorang wanita cantik dan seorang
pria tampan turun dari mobil itu. Hai, ada gadis cilik seusiaku. Apakah dia
saudaraku? Nenek sangat terkejut saat membuka pintu. Nenek memeluk wanita dan
pria itu. Lalu dengan penuh kasih sayang membelai gadis cilik itu. Lalu Nenek
mempersilakan mereka masuk. Mereka mulai berbincang. Aku memasang telinga
dengan tajam. Air mataku pun jatuh. Sungguh, aku kecewa sekali. Semuanya diluar
degaanku. Mereka bukan orangtuaku dan gadis cilik itu bukan saudaraku.
Yang sebenarnya,
dulu Nenek adalah pengasuh Katarina Wilson. Ke mana-mana Nenek selalu
menemaninya. Saat Nenek pensiun, Katarina Wilson memberikan baju dan sepatu
balet beserta kotak musiknya sebagai kenang-kenangan pada Nenek. Lalu aku ini
siapa?
“Nenek
menemukanmu di depan rumah dalam keadaan kedinginan. Akhirnya Kakek dan Nenek
mengadopsmu. Kakek dan Nenek sangat menyayangimu. Sampai-sampai Nenek
melarangmu bermain di loteng. Kamu kan, alergi debu. Nenek sedih sekali kalau
kamu sakit!” begitulah cerita Nenek.
Olala...
kini semua jelaslah sudah. Namun aku tidak sedih lagi, karena tahu kalau nenek
ternyata sangat menyayangiku.



0 komentar:
Posting Komentar